Tak Ingin Hatiku Beralih by KLa Project

December 1st, 2008 by erryfp

LIRIK LAGU TERBARU KLa PROJECT!!!

Hujan basahi pagi, dingin menemani
Dan masih ku disini, berharap menanti
Semenjak kau pergi, menyisakan duka ini
Separuh ruang hati kini terasa hampa tak berarti
Hanya engkaulah yang mampu mengisi

Kudambakan kasihmu, kurindukan hadirmu
yang s’lalu membasuh pedih
Sungguh kau tak terganti, bilakah kau kembali?
Tak ingin hatiku beralih

Dan masih ku disini, berharap menanti
Semenjak kau pergi, menyisakan duka ini
Separuh ruang hati kini terasa hampa tak berarti
Hanya engkaulah yang mampu mengisi

Kudambakan kasihmu, kurindukan hadirmu
yang s’lalu membasuh pedih
Sungguh kau tak terganti, bilakah kau kembali?
Tak ingin hatiku beralih

Meski banyak bunga lain mencoba cerahkan hati
Namun kenanganku akan dirimu yang s’lalu memanggil bahagiaku

Oooh, tak ingin hatiku beralih..

Kudambakan kasihmu, kurindukan hadirmu
yang s’lalu membasuh pedih
Sungguh kau tak terganti, bilakah kau kembali?
Tak ingin hatiku beralih

>> song by Katon/Adi - album: KLa Returns (2008)

Someday by KLa Project

December 1st, 2008 by erryfp

LIRIK LAGU TERBARU DARI KLa PROJECT!!!

Sekilas kulihat senyumanmu untukku
Walau saat itu kau belum mengenalku
Someday I will tell you, cerita tentang diriku
Sejak waktu itu hati kecil bicara
Dunia ‘kan indah bila kita bersama
Someday I will catch you, it doesn’t matter what they say
Oh sungguh kau merampas hati

It’s about you tonight, would you open up your heart?
Someday you’ll be mine
We’re just waiting for a sign
It’s about you tonight, kupercaya terjadi
Someday you’ll be mine

[rap part by Christopher Aguilar]

… bila kita bersama
Someday I will catch you, it doesn’t matter what they say
Oh sungguh kau merampas hati

It’s about you tonight, would you open up your heart?
Someday you’ll be mine
We’re just waiting for a sign
It’s about you tonight, kupercaya terjadi
Someday you’ll be mine

Telah kubayangkan kita jalan berdua
Diriku dan dirimu yang bersatu di dalam cinta
Akan kupenuhi semua janji-janji
Hatiku kini untukmu

It’s about you tonight, would you open up your heart?
Someday you’ll be mine
It’s about you tonight, kupercaya terjadi
Someday you’ll be mine
We’re just waiting for a sign
It’s about you tonight, kupercaya terjadi
Someday you’ll be mine…

>> song by Katon/Adi - album: KLa Returns (2008)

NSP.. (Not So imPortant?)

June 1st, 2008 by erryfp

Udah dari dulu pengen nyoba punya NSP (Nada Sambung Pribadi) alias ringback tone. Tapi ada 2 hambatan utama yg bikin aku ampe skrg masih belum merealisasikannya:

  1. Harganya relatif mahal, Rp9000/bulan (+ PPn 10%) utk 1 lagu. Bisa utk 99 SMS sesama Telkomsel tuh. Lagian jangka waktu 1 bulan juga menurutku sih kelamaan. Susah milih lagunya, karena lagu yg aku suka skrg, belum tentu masih aku suka dlm 1 bulan ke depan. Sayangnya, belum ada layanan NSP harian atau mingguan sih ya. Kalo Rp2500/minggu aja, aku kayaknya bakal lebih tertarik tuh.
  2. Alesan yg paling penting: Jarang ada orang yg nelpon aku, wkwkwkwk… Jadi ntar siapa yg menikmati dong? Sayang atuh kalo cuma terbatas ortuku dan segelintir orang temenku yg ngedengerin :p.

Beberapa hari yg lalu, aku ngeliat ada promosi NSP dari Telkomsel, namanya NSP Hits. Ada sekitar 40-an lagu hits yg termasuk dlm daftar NSP promosi.. dgn harga & tawaran yg sangat menggiurkan: Rp7500 per lagu utk 2 (dua) bulan pemakaian. Aku jadi tertarik nih utk nyoba.. =p

Tapi masih bingung mo milih lagu apa.. Ada 6 nominees yg aku minatin:

  • "Apa Kata Dunia" - Melly feat. Deddy Mizwar
  • "Candu Asmara" - Marcell
  • "Cinta Ini Membunuhku" - D’Masiv
  • "I Love U, Bibeh" - The Changcuters
  • "Jalan Cinta" - Sherina
  • "Permintaan Hati" - Letto

Pilih yg mana yah? Hmmm…. Ada masukan?

But well, menurutmu, sebenernya layanan ringback tone alias RBT ini penting ngga sih? Soalnya skrg makin banyak aja orang yg menggunakan layanan ini.

Bahkan ada fenomena baru di dunia musik tanah air, yaitu menjadikan RBT sbg ujung tombak penghasilan seorang penyanyi/sebuah band. Seiring makin maraknya pembajakan, mereka udah ngga bisa lagi menggantungkan pendapatan dari penjualan kaset/CD. Berpindahlah strategi pemasaran dgn cara "menjual singel" instead of "menjual album", caranya ya lewat jalur RBT.

Sebuah artikel di majalah Hai edisi 21 April 2008 menyebutkan Top Ten Musisi RBT Terkaya di Indonesia:

  1. The Rock - "Munajat Cinta" - 1,7 juta RBT aktif
  2. Letto - "Sebelum Cahaya" - 1,6 juta RBT aktif
  3. Rossa - "Ayat-Ayat Cinta" - 1,6 juta RBT aktif
  4. Drive - "Bersama Bintang" - 1,5 juta RBT aktif
  5. Repvblik - "Hanya Ingin Kau Tahu" - 1,5 juta RBT aktif
  6. Vagetoz - "Betapa Aku Mencintaimu" - 1,4 juta RBT aktif
  7. Melly Goeslaw - "Gantung" - 1,3 juta RBT aktif
  8. GIGI - "11 Januari" - 1,3 juta RBT aktif
  9. Ungu - "Cinta Dalam Hati" - 1,3 juta RBT aktif
  10. BCL - "Sunny" - 1,3 juta RBT aktif

Bagaimana menghitung pendapatan dari RBT? Dari satu kali download, sekitar 50% dari nilai jual adalah hak provider seluler. Sisanya, 50%, dibagi-bagi antara musisi, label, dan content provider. Kalo diasumsikan pembagian itu sama rata, artinya seorang musisi kurang lebih akan mendapatkan 15% dari nilai jual RBT.

So, itung aja sendiri kira2 berapa penghasilan Ahmad Dhani cs. dari hasil penjualan RBT "Munajat Cinta".. 15% x Rp9000 x 1,7 juta.. hasilnya 2,295 miliar rupiah!

Buat yg pernah/sedang make RBT, tolong dong berbagi cerita.. apa alesannya, trus gimana cara milih lagunya, trus gimana efeknya setelah make itu? Apa ada kepuasan pribadi atau gimana gitu?

Sementara buat yg belum/nggak tertarik make RBT, tolong ceritain juga alesannya..

ITB - CiWalk > Buahbatu - ITB!

June 1st, 2008 by erryfp

Uh oh.. gara2 lewat kampus pas jam selesai USM (15.30), aku terjebak lalu lintas seputar Gelapnyawang-Ganesha-Tamansari-Sabuga amat sangat padat. Walhasil, perjalanan dari Tamansari menuju CiWalk (well, sebenernya aku mo nganter temen naik XTrans di seberangnya sih) yg normalnya bisa ditempuh dlm waktu 15 menit saja, tadi sore harus memakan waktu 3x lipatnya.. alias 45 menit! Dari rumahku ke ITB aja paling lama biasanya cuma 30 menit.. O_o

Itu dgn catatan sesampainya di Cihampelas, aku ngambil jalur alternatif.. ga ngikutin panjang jalan Cihampelas, tapi belok kanan setelah Toko Kelom Geulis Keng, menuju arah pom bensin Cipaganti, trus nyebrang ke jalan kecil yg skrg merupakan lokasi Bloemen Cafe (ga tau nama jalannya apa :p), trus pokoknya nyelip2, dan nembus balik ke Cipaganti — sebelum masjid raya.

Sip… dari situ tinggal belok kanan ke Jl. Sastra.. dan fiuuuh, nyampe XTrans tepat waktu deh.

Kalo aku ngikutin alur Jl. Cihampelas yg udah macet mulai dari depan pom bensin, wew… bisa2 aku nyampe XTrans pas udah magrib kali -_-

***

Trus pas pulang ke rumah, seperti biasa Jl. Buahbatu dilanda kemacetan, esp. di depan Griya. Eh, pas mau belok ke Jl. Cijagra juga tumben2an macet… Ada apa ya? Aku jadi heran..

Ternyata pas aku udah bisa belok.. baru keliatan, ada mobil lagi kena tilang polisi persis di sudut tikungan jalan, entah karena kesalahan apa. Yang bikin aku sebel, polisinya ya mbok mikir… cari duit (baca: nilang) mah boleh2 aja, tapi "prosesi"-nya ya jangan di pangkal jalan gitu dong. Bikin macet aja…. padahal tinggal maju dikit 10 meter, ada area yg sedikit lebih luas utk kendaraan diparkir dan pastinya nggak akan bikin macet jalan.

Tahpapa. Polantas lha kok malah ngacauin lalu lintas.. <_<

KISAH DARI BALIK KANDANG

May 31st, 2008 by erryfp

Sebuah Kamis siang yang terik, matahari menyengat dan tiada angin yang bertiup. Tidak ada aktivitas di kampus, baik kuliah maupun ujian, membuat saya merasa bosan. Akhirnya saya memutuskan untuk melangkah keluar, menyusuri pepohonan rindang sepanjang Jalan Ganesha menuju arah Jalan Tamansari. Sampai di ujung jalan, terlihat sebuah gerbang besar dengan papan nama bertuliskan “Kebun Binatang Bandung”. Dengan maksud sekadar mencari keteduhan dan suasana segar, saya melangkahkan kaki menuju gerbang berwarna biru tersebut. Siapa sangka, dari niat yang sederhana itu, saya justru memperoleh sebuah pengalaman unik yang tak akan terlupakan seumur hidup?

Kali terakhir saya menjejakkan kaki di tempat ini adalah sekitar 8 bulan yang lalu, bersama teman dan dua orang sepupunya yang masih bersekolah di Sekolah Dasar. Sebuah hal yang wajar mengingat selama ini, kebun binatang memang identik dengan status sebagai tempat hiburan murah meriah bagi anak-anak beserta keluarganya. Dapat dilihat pada setiap akhir pekan (hari Sabtu & Minggu) serta hari-hari libur (terutama hari lebaran), Kebun Binatang Bandung (KBB) pasti penuh sesak dengan pengunjung yang umumnya terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu, anak, sampai cucu. Selain berniat melihat-lihat koleksi hewan yang dimiliki KBB, keluarga-keluarga ini pun biasanya membawa bekal makanan untuk disantap bersama-sama di atas hamparan tikar. Ini merupakan bagian tradisi orang Sunda yang dikenal dengan istilah “botram”. Memang nikmat rasanya makan siang bersama sanak famili sembari dinaungi pepohonan yang rimbun. Tipe pengunjung lainnya yang kerap mewarnai KBB adalah rombongan study tour anak-anak sekolah, biasanya usia Sekolah Dasar dan berasal dari luar kota Bandung. Kan orang Bandung masa kini lebih memilih mengunjungi pusat perbelanjaan dibanding objek wisata alam?

Sejarah mencatat bahwa asal-muasal KBB adalah peresmian sebuah taman yang terletak di sepanjang bagian barat Huygensweg (sekarang Jl. Tamansari) sampai ke tepi timur Sungai Cikapundung pada tahun 1923. Taman ini didirikan dalam rangka memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda sehingga awalnya diberi nama Jubileumpark. Rancangan awal memaksudkan Jubileumpark sebagai taman botani, taman yang menghimpun berbagai jenis  tanaman keras dan tanaman hias. Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Perubahan fungsi yang dirancang oleh Dr. W. Treffers ini merupakan penggabungan dua kebun binatang dari Cimindi dan Dago Atas. Keduanya dianggap sudah tidak layak untuk menyimpan koleksi hewan yang semakin lama semakin banyak. Selanjutnya, kepengurusan kebun binatang ini jatuh ke beberapa tangan. Hingga akhirnya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1953, pengelolaan KBB dialihkan kepada Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) milik Ema Bratakusumah. Yayasan ini lalu diwariskan kepada anak cucu keluarga Bratakusumah, sampai saat ini.

Sebelum melewati pintu masuk KBB, saya harus membeli tiket terlebih dahulu sebesar Rp10.000. Rupanya telah terjadi kenaikan harga sebesar 2000 rupiah sejak saya terakhir berkunjung ke sini. Patokan biaya masuk yang, menurut saya, sudah tidak bisa lagi digolongkan dalam kategori murah. Apakah hilangnya label “murah” berimbas pada lenyapnya label “meriah”? Apalagi hari ini bukanlah akhir pekan dan hari libur.

Ternyata tidak.

Masuk ke area utama KBB, saya langsung disambut riuh-rendah suara anak kecil. Terlihat anak-anak berseragam olahraga warna-warni dan bertuliskan beberapa nama Sekolah Dasar berlarian ke sana kemari ditemani oleh guru-guru yang mengasuh. Ah ya, saya baru teringat bahwa pekan ini sudah merupakan masa liburan sekolah anak-anak kecil itu.

Sambil mengamati tingkah laku para pengunjung cilik yang sangat aktif tersebut dan menikmati kesejukan pohon-pohon, tak terasa saya sampai ke wahana gajah tunggang. Wahana ini sengaja disediakan oleh KBB bagi pengunjung yang ingin mencoba menaiki gajah. Seekor gajah bisa dinaiki hingga maksimal 8 orang. Cukup membayar 3000 rupiah, pengunjung anak-anak dan dewasa bisa merasakan sensasi lenggak-lenggok jalannya gajah mengitari jalur sepanjang kurang lebih 25 meter.

Di sanalah saya bertemu dengan Pak Dikdik, seseorang berseragam biru yang bertugas untuk membantu pengunjung yang akan turun dari gajah yang mereka tunggangi. Wajahnya yang ramah membuat saya tertarik untuk mengobrol dengannya.

“Saya sudah bekerja di sini sejak 20 tahun yang lalu,” ujar Pak Dikdik. Dengan umurnya yang masih 38 tahun, artinya ia telah bekerja mulai usia yang cukup belia.

“Sebenarnya tugas saya bukan di wahana gajah tunggang ini, melainkan di area hewan-hewan primata. Jabatan saya sebagai keeper (pawang) primata, terutama orang utan dan siamang. Berbagi tanggung jawab dengan 5 orang pawang lainnya yang mengurusi koleksi primata lain, seperti kera jepang, beruk, wau-wau, dan bekantan. Cuma kebetulan saja saat ini saya sedang tidak ada tugas sehingga diminta membantu di bagian gajah,” lanjut pria asal Pangalengan ini. Ceritanya berlanjut dengan menjelaskan job description hariannya sebagai seorang pawang, walau sesekali harus terputus saat si gajah tiba di tempat penurunan penumpang.

“Jam kerja saya dimulai pukul 07.00 hingga 17.00. Pagi-pagi sudah harus meninjau keadaan hewan, siapa tahu ada yang sakit. Setelah itu, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran supaya kebersihannya terjaga. Jam 08.00 memberi makan pagi, kemudian saya bebas tugas sampai sekitar pukul 15.00, saatnya makan sore. Kandang pun dibersihkan lagi sambil mengecek kondisi masing-masing hewan. Rutin seperti itu terus setiap hari,” begitu penjelasan Pak Dikdik.

Pertanyaan mengenai menu makanan primata lalu meluncur dari mulut saya. Ia menjawab bahwa pada umumnya, semua primata memiliki menu yang sama yaitu buah-buahan (terutama pisang & pepaya) dan sayur-sayuran. Selain itu, seminggu sekali mereka diberi jatah makanan ekstra di luar menu rutin. Biasanya menu ekstra ini berupa apel, jeruk, ataupun roti tawar. Dalam hati saya berpikir, alangkah beruntungnya hewan-hewan ini bisa mendapat asupan gizi yang cukup baik dan teratur. Belum tentu sang pawang bisa menikmati buah-buahan segar seperti yang mereka konsumsi setiap hari.

Kemudian Pak Dikdik menceritakan suka-dukanya selama menjadi pawang. “Pengalaman paling menarik yang pernah saya alami adalah sewaktu bertarung dengan seekor siamang di atas pohon. Waktu itu saya sedang memotong ranting pohon yang menjulur ke luar kandang. Sepertinya siamang itu merasa terganggu dengan aktivitas saya sehingga ia menyerang saya. Saya pun berusaha melawan sambil bergelantungan di atas pohon. Jelas saya yang terdesak. Untung saya menggunakan sepatu bot. Saya tendang saja siamang itu dan ia langsung melarikan diri,” ceritanya dengan antusias.

“Namun yang paling sedih adalah saat melihat hewan asuhan saya sedang sakit atau bahkan sampai mati. Kedekatan yang selama ini terjalin membuat saya merasa kehilangan. Apalagi bisa dibilang, dari merekalah saya bisa memenuhi kebutuhan anak dan istri,” lanjutnya.

Obrolan saya dengan Pak Dikdik terhenti ketika waktu menunjukkan pukul 12.30. “Waktu istirahat siang,” katanya. Sebelum ia pergi, saya sempat meminta izin untuk melihatnya memberi makan sore kepada hewan-hewan asuhannya. Sambil tersenyum, ia membolehkan dan mengundang untuk datang ke kandang orang utan pukul 15.00. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun pergi melanjutkan jalan-jalan melihat binatang lainnya.

KBB terletak di sebuah lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Cikapundung. Hal ini berpengaruh terhadap kontur area kebun binatang yang berundak-undak. Pada tingkat paling rendah, terdapat sebuah kolam yang digunakan sebagai wahana perahu bebek kayuh dan perahu dayung. Di bagian utara kolam, dibatasi oleh sebuah jalan setapak, ada kolam lain tempat berkubangnya dua ekor kuda nil. Di dekatnya, saya melihat seseorang berseragam biru – sama seperti yang dikenakan Pak Dikdik – sedang membersihkan lahan sekitar kolam. Saya mendekatinya dan meminta izin untuk berbincang-bincang.

Sosok pria yang tampak cukup tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Dedi Rahmat. Ia bertugas sebagai pawang buaya dan kuda nil. Deskripsi tugasnya kurang lebih sama saja dengan Pak Dikdik.

“Tapi saya juga punya tugas menguras kolam kuda nil ini seminggu sekali,” tambahnya. Saya cukup kaget mendengarnya karena melihat ukuran kolam yang tidak bisa dibilang kecil, ia harus membersihkannya seorang diri.

Pria yang berdomisili di Cileunyi ini kemudian menceritakan mengenai hewan-hewan yang menjadi tanggung jawabnya. Terdapat 8 ekor buaya muara, 2 ekor buaya irian, 1 ekor kuda nil biasa, dan 1 ekor kuda nil kerdil. Semua hewan ini berasal dari sumbangan pihak luar, terutama buaya yang dihibahkan oleh pemilik perorangan. Rupanya di Bandung pun ada beberapa orang yang memelihara buaya di pekarangan rumahnya, antara lain di daerah Buahbatu dan Soekarno-Hatta.

Tidak takut digigit buaya, Pak?

“Saya sudah sejak tahun 1979 bekerja di KBB dan menjadi pawang buaya dari tahun 1982. Dalam 1 – 2 minggu pertama sih memang masih takut, tapi lama-lama jadi biasa. Saya belajar menangani buaya dengan membaca buku dan bertanya kepada orang-orang yang sudah lebih berpengalaman. Selain itu, saya juga pernah ikut studi banding ke kebun binatang lainnya khusus mempelajari trik-trik menghadapi buaya,” jawabnya.

Ketika disinggung mengenai menu makanan hewan, Pak Dedi menjelaskan bahwa untuk kuda nil, menunya sayur-mayur dan buah-buahan – mirip dengan menu primata. Lain halnya dengan buaya. Sajian untuk mereka ialah satu ekor bebek hidup bagi masing-masing buaya.

“Bebek itu langsung dilemparkan hidup-hidup ke kandang buaya. Nanti buayanya akan mengejar si bebek sampai dapat, jadi buaya juga diajarkan harus berusaha demi mendapat mangsa. Proses buaya mulai makan bebek sampai mencernanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Makanya jadwal pemberian makan untuk buaya juga 10 hari sekali,” tambahnya.

Bapak dari 5 orang anak ini menceritakan pula pengalaman yang ia rasa paling menarik selama bekerja di KBB. Salah satunya adalah saat memindahkan buaya dari satu kandang ke kandang barunya. Teknik yang ia gunakan yaitu dengan membungkam mulut buaya dengan jerat serta menutup seluruh kepalanya dengan karung.

“Tapi yang paling lucu ialah waktu ada pengunjung yang protes kepada saya, menuduh buaya-buaya yang ada di kandang cuma patung. Soalnya kan buaya memang punya kegemaran berdiam diri lama sekali sambil berjemur. Pengunjung tersebut merasa setiap ia datang ke KBB, buaya yang ia lihat sama sekali tidak pernah bergerak dan posisinya tidak pernah berubah. Padahal memang hobinya buaya kayak gitu,” ujarnya sambil terbahak-bahak.

Terakhir, pawang berusia 43 tahun ini melengkapi, “Saya juga punya tugas tambahan sebagai serep (cadangan) pawang ular. Kalau pawangnya lagi libur, saya menggantikan dia. Begitu juga sebaliknya.”

Kasus pawang cadangan ini mirip dengan Pak Dikdik yang membantu di bagian gajah. Mungkin mereka tidak merasa terpaksa dalam mengerjakannya, tapi saya merasa ini adalah sebuah bentuk kurangnya profesionalisme dalam pembagian tugas oleh manajemen KBB. Semestinya seorang pawang cukup memfokuskan diri kepada hewan yang menjadi tanggung jawabnya, tidak perlu memecah konsentrasi dengan menjadi cadangan pawang hewan lain. Namun mungkin saja ini adalah akibat dari kekurangan personel.

Setelah puas memperoleh informasi dari Pak Dedi, saya meneruskan perjalanan dengan kembali ke tingkatan atas KBB. Melihat-lihat berbagai koleksi unggas, seperti burung kakatua, merak, kutilang, ayam bekisar, dan sebagainya, yang berada di kandang-kandang khusus yang lebih lapang. Kondisi ini memberi ruang yang cukup bagi berbagai spesies burung untuk beterbangan bebas ke segala penjuru.

Usai rehat sejenak sambil menunaikan salat zuhur di musala, saya melangkah ke arah barisan kandang hewan-hewan yang dijuluki “raja hutan”. Ya, KBB menyimpan pula koleksi karnivora buas seperti harimau sumatera, harimau putih, macan kumbang, dan singa. Saat saya melihat dari dekat, hewan-hewan ini sepertinya sedang beristirahat karena semuanya sedang berbaring di lantai kandang. Tidak tampak keberingasan layaknya raja hutan.

Penasaran akan kondisi mereka, saya pun mencari pawangnya untuk meminta informasi lebih lanjut. Setelah bertanya sana-sini, saya lalu menemukan sang pawang bernama Asep Saepudin sedang ikut serta dalam sebuah penggalian yang sepertinya untuk membuat kandang baru. Ia mengenakan kaus hijau, celana jins, dan sepatu bot yang dikotori dengan tanah. Sangat berbeda dengan penampilan dua pawang yang sebelumnya sudah saya temui.

“Iya, ini lagi membuat kandang baru untuk komodo,” ucap Pak Asep menghampiri saya sambil mengusap peluh. Wah, kok pawang singa dan harimau malah ikut bekerja membuat kandang? Apalagi kandang komodo yang bukan merupakan tanggung jawabnya.

Saya mengutarakan maksud kedatangan untuk menanyakan informasi tentang hewan-hewan asuhannya. Ia menyambutnya dengan senang hati. “Sekalian istirahat sebentar,” katanya sambil tertawa.

Pria asli Bandung ini kemudian menjelaskan bahwa dua jam lagi, singa dan harimau itu akan diberi makan. Hidangan rutin mereka adalah daging ayam utuh sebanyak 4 ekor untuk setiap singa dan harimau. Biasanya mereka makan setiap hari tetapi karena harga daging ayam meningkat, jatah makan pun dikurangi menjadi dua hari sekali. Oo, mungkin mereka cuma berbaring saja gara-gara perutnya sudah kelaparan, pikir saya. Namun lagi-lagi saya merasa miris saat di dalam hati mencoba membandingkan menu makanan para karnivora ini dengan menu yang mungkin biasa disantap keluarga pawangnya. Apakah Pak Asep, istri, dan 4 orang anaknya juga bisa dengan leluasa melahap daging ayam?

“Saya juga bertugas untuk mengontrol kesehatan singa dan harimau-harimau ini. Kebersihan kandang harus dijaga, begitupun kebersihan hewan. Saya memandikannya dengan cara menyemprot dari luar pakai selang. Selain itu, kalau ada koleksi yang baru masuk, saya juga bertugas menjinakkannya supaya tidak membahayakan pengunjung,” tambahnya. Untungnya selama 17 tahun bekerja sebagai pawang, ia belum pernah terkena luka berat. Padahal salah satu temannya pernah diserang harimau yang sedang ganas-ganasnya sehingga harus dirawat di rumah sakit dan mendapat 79 jahitan di sekujur tubuh.

Tidak terlalu lama saya bisa bercengkrama dengan Pak Asep karena ia harus segera kembali ke tempat penggalian. Sebelum berpisah, ia mempersilakan saya untuk datang pukul 16.00 kalau ingin melihatnya memberi makan singa dan harimau. Tentu saya tidak akan melewatkan ajakan tersebut.

Sambil menunggu jadwal memberi makan orang utan yang Pak Dikdik akan lakukan, saya duduk melepas lelah di sebuah bangku panjang. Terpikir oleh saya betapa dekatnya hubungan antara pawang dan hewan asuhannya. Ketiga pawang yang saya temui selalu menyebutkan bahwa duka terdalam yang mereka rasakan ialah jika hewan asuhannya sakit dan kemudian mati, sementara sukanya jika melihat hewan yang sehat. Merawat binatang bukanlah hal yang mudah. Pawang harus memiliki kelembutan hati untuk mampu memahami perasaan hewan yang menjadi tanggung jawabnya.

Hal lain yang menarik dari ketiga pawang ini adalah kesamaan awal mula mereka menjadi pawang. Baik Pak Dikdik, Pak Dedi, maupun Pak Asep menyatakan bahwa alasan mereka bekerja di KBB adalah karena ajakan dari anggota keluarga lainnya.

“Saya diajak oleh kakak yang sudah lebih dulu bekerja di sini,” demikian kata Pak Dikdik. Sementara Pak Dedi memberitahu bahwa almarhum orang tuanya dulu bekerja di KBB sebagai penyabit rumput untuk pakan hewan. Keduanya yang berjasa memasukkan dirinya ke kebun binatang ini. Ia pun kemudian merekomendasikan dua orang adiknya untuk bekerja di tempat ini – satu orang sebagai pawang dan satu orang lagi sebagai staf kantor KBB. Begitupun Pak Asep yang menjadi pekerja di KBB berkat dorongan ayahnya yang juga pawang harimau. Pertama masuk, kerjanya masih serabutan. Baru sekitar 2 tahun setelahnya, ia dipercaya oleh sang ayah untuk membantunya menjadi pengasuh singa dan harimau.

Saat ditanya mengenai kesejahteraan mereka sebagai pawang di KBB, hanya Pak Dedi yang mengaku gajinya bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Namun ia pun menambahkan bahwa dua orang anak tertuanya telah memiliki pekerjaan, sehingga bisa ikut membantu kebutuhan keluarga. Selain itu, posisinya sebagai salah satu pawang paling senior di KBB mungkin juga berpengaruh terhadap besaran penghasilan yang ia terima. Berkat pengabdiannya selama hampir 30 tahun ini, ia pernah menerima penghargaan berupa sejumlah uang dan piagam penghargaan.

Lain halnya dengan kedua pawang yang lebih junior dibanding Pak Dedi.

“Yah, terus terang saja, pegangan saya mah belum cukup untuk memberi makan anak istri,” tukas Pak Dikdik sambil tersenyum pahit. Ia memilih menyebut “gaji” sebagai “pegangan”. Sepertinya sebuah makna tersirat bahwa pekerjaan ini benar-benar telah menjadi sandaran hidupnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

“Istri saya terpaksa ikut membantu dengan bekerja juga di sini sebagai penjaga WC,” lanjutnya, “sementara istri-istri pegawai lainnya juga ada yang mencari tambahan penghasilan dengan cara membuka warung di dalam area KBB ini.”

Di tempat lain, Pak Asep mengeluhkan kenaikan BBM yang baru-baru ini terjadi. Lokasi rumahnya sangat jauh, di daerah Cibiru, sementara ia belum memiliki alat transportasi pribadi. Akibatnya, ia harus naik ojek dan angkutan kota setiap hari untuk pulang-pergi ke tempat kerjanya ini.

“Kalau dihitung-hitung, sekarang setiap hari bisa habis tiga puluh ribu rupiah untuk pulang-pergi,” keluhnya. Lewat perhitungan kasar, dengan asumsi hari kerja efektif setiap bulan (setelah dipotong jatah libur) sebanyak 25 hari, Pak Asep harus mengeluarkan Rp750.000 untuk ongkos transport saja. Saya memang tidak menanyakan besaran gaji pawang, tetapi saya yakin jumlahnya tidak akan jauh dari angka 1 juta rupiah. Bisa lebih, tapi bisa juga kurang dari itu. Sulit membayangkan, sisa uang 250 ribu rupiah harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan seorang istri dan empat orang anak selama 1 bulan.

Sempat terlarut dalam perenungan, saya melihat jam dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang utan feeding time! Bergegas saya pergi ke kandang orang utan yang berbentuk semacam pulau dengan sungai buatan di sekelilingnya. Pak Dikdik dari kejauhan telah melihat saya dan melambaikan tangan. Di balik kandang, saya bertemu dengan orang utan tertua di KBB. Namanya Simon, berusia lebih dari 30 tahun. Timbul rasa ngeri melihat ukuran tubuhnya yang sangat besar dan rambutnya yang lebat, mirip gorila. Saat diberi makan, tangannya langsung meraih pepaya, pisang, jeruk, dan roti tawar (menu ekstra pekan ini). Pak Dikdik memberitahu bahwa kekuatan tangan orang utan besarnya sepuluh kali lipat kekuatan tangan manusia dewasa. Oleh karena itu, saya diingatkan supaya tidak berdiri terlalu dekat dengan kandang agar berada di luar jangkauan Simon.

Selepas menyaksikan orang utan, giliran jam makan para karnivora yang mesti saya hadiri. Sangat menarik melihat mereka dengan tak sabar menunggu di balik celah tempat daging ayam dilempar ke dalam kandang mereka. Yang saya perhatikan, cara makan harimau lebih rapi dibanding singa. Harimau menghabiskan 4 ekor ayam satu persatu, sementara singa melahapnya secara acak. Pemandangan yang unik dan baru pertama kali saya saksikan.

Setelah selesai memberi makan hewan asuhannya, Pak Asep muncul bersama anak dan istrinya. Namun yang menarik perhatian saya ialah seekor hewan yang mirip kucing tapi bertubuh besar yang turut mengiringi langkah mereka.

“Ini anak hasil perkawinan singa yang saya asuh. Usianya baru dua bulan. Namanya Marsha karena lahirnya bulan Maret hari Selasa. Sekarang sih masih jinak, nggak tahu nanti kalau sudah besar,” katanya sambil menggiringnya ke arah saya. Melihat tingkahnya yang menggemaskan bagai kucing, tak akan ada yang menyangka kalau hewan ini adalah anak singa. Bahkan anak Pak Asep yang masih kecil saja berani bermain-main dengan Marsha.

Tanpa terasa, hari telah semakin sore. Mungkin saya adalah pengunjung terakhir yang berada di dalam KBB ini. Seusai menyempatkan diri berfoto sambil memangku Marsha si anak singa, saya pun berpamitan kepada Pak Asep dan keluarganya. Sembari berjalan menuju gerbang keluar, terselip secercah rasa yang belum pernah saya rasakan selama beberapa kali kunjungan ke KBB. Sebuah kepuasan akan pengalaman yang baru saya lewati, berdialog dengan tokoh-tokoh perawat hewan ini. Beragam cerita yang mereka ungkapkan menambah wawasan saya bahwa ternyata banyak kisah menarik dari balik layar – lebih tepatnya, dari balik kandang – satu-satunya kebun binatang di kota ini.  (*)

(Feature ini dibuat untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah KU4214 Jurnalisme Sains dan Teknologi)

******

Baca di koran PR (dan katanya juga ada di Tribun Jabar) hari ini, ada berita ttg satwa baru di KBB. Trus ada foto Marsa juga… Wew, beruntunglah aku udah pernah foto duluan bareng si anak singa sebelum dipublikasikan ke media massa.

Semarang, Here I Come!

July 7th, 2007 by erryfp

Aku pamit ya.. mo KP di Semarang.. :)

Insya Allah selama 1 bulan di Telkomsel Divre Jateng & Yogya.. :)

Doakan aku lancar2 aja ya selama di sana. Pengalaman pertama ngekos nih.. :p

M150: Bisa!!!

July 2nd, 2007 by erryfp

Intermezzo dulu yah, sebelum aku posting lagi soal journey-ku tahun lalu.. heuheu, kebiasaan buruk nih, semangat postingnya klo lagi dapet ‘inspirasi’ ajah. Klo lagi males mah, bisa vakum berapa lama tuh.. kayak nasib blog ini :p

Kemaren (Minggu, 1 Juli 2007) aku baru dari Festival Komputer Indonesia (FKI) 2007 yg diadain di Be-Mall. Acaranya sih udah berlangsung sejak hari Selasa (klo ga salah) dan kemaren adalah hari terakhir. Kebetulan aku emang lagi berniat nyari laptop, bekal untuk KP di Semarang yg insya Allah bakal dimulai Senin depan. Udah baca di koran, banyak vendor laptop bertebaran masang iklan. It only did favour to me, so aku bisa cek2 dulu sebelum mutusin laptop mana yg akan menjadi pendamping setiaku selama KP nanti. Selain dari iklan2 itu, tentunya aku juga sempet coba browsing2.. cuma sayangnya aku nggak nemuin situs lokal yg khusus nge-review laptop. Adanya cuma http://www.notebookreview.com yg berbahasa Inggris, tentu barang2 yg di-review pun lebih banyak yg nggak/belum masuk ke Indonesia. So, ujung2nya mah yg jadi source utamaku adalah Bhinneka.com deh..

Sejak awal, aku udah ngincer laptop dgn spek yg relatif tinggi. Alhamdulillah budget yg disediain ortuku mencukupi. Sekalian buat investasi katanya.. =).

FYI, baru pertama kali ini aku merhatiin spek laptop secara seksama. Sebelumnya mah nggak tertarik karena ngerasa belum terlalu butuh. Padahal sebenernya udah ditawarin ma ortu sejak lama loh, tapi akunya keukeuh belum mau. Toh di kampus masih ada lab ini.. (yg mana klo lab penuh ato lagi dipake praktikum, baru deh aku ngerasa butuh laptop :p).

Merk2 berseliweran, mulai Acer, HP-Compaq, Toshiba, ampe merk lokal seperti Axioo. Sejak awal bapakku udah insist utk milih Toshiba, dgn alasan temen2 beliau di kantor banyak yg make dan nggak pernah ada yg bermasalah, nggak seperti temen beliau yg pengguna Acer. Belakangan aku juga baca beberapa review yg nyebutin klo Acer emang cukup sering berproblem (bahkan ampe ada yg ngasi sebutan "Acer = Aduh Cepet Rusak"). Yasuw, aku cari2 deh koleksi laptop keluaran Toshiba dan nemu beberapa tipe yg cukup sesuai dgn keinginanku. Begitupun dgn merk2 lainnya, aku coba cari juga, terutama di Bhinneka.com tadi sih. Untungnya ada pilihan bantuan utk kita, tinggal milih2 spek yg kita inginkan, trus dimunculin deh laptop2 yg sesuai dgn hasil masukan kita. It was very helpful for newbie like me. Selain lewat situs itu, aku juga nyempetin dulu utk dateng ke pamerannya hari Jumat, sekadar utk ngumpulin brosur2 sbg referensi lainnya. Dapet lah setumpuk yg aku baru bisa baca pas hari Sabtu-nya..

Liat punya liat Bhinneka dan brosur, banding punya banding Bhinneka dan brosur, akhirnya aku bisa nyeleksi jadi 10 Besar nominasi pilihanku: Acer Aspire 5585WXMi, ASUS F2Je, ASUS A8J, HP Pavilion dv2504, Compaq Presario V3504, IBM ThinkPad R61, IBM ThinkPad T60, Sony Vaio VGN-C140G, Toshiba Satellite M100-2411E, dan Toshiba Satellite M200-E451. Axioo MLA 712 sempet masuk nominasi juga, tapi aku kurang yakin bapakku mau ngebeliin laptop produk lokal. He’s so brand-minded, you know.. (itu makanya beliau ‘menggiring’ aku utk milih Toshiba). Aku sempet bikin daftar plus-minus dari masing2 laptop utk dibawa sbg kebetan pas hari-H, which was yesterday.

Bersama kedua ortuku, pergilah kami ke Be-Mall. Diawali dgn susah payah cari parkir (baru dapet pas puteran kedua), salah lantai pas keluar dari lift, kami sampe juga di tempat acara. Rasanya sih nggak sepenuh pas hari Jumat, entah kenapa. Aku keluarin kebetan dan mulailah menjelajah ke stan2 inceranku utk ngliat kesepuluh nominasi. I spent about an hour until finally I only had two strong candidates: Toshiba Satellite M200-E451 or Compaq Presario B1962. Heuheu, nama yg terakhir emang di luar Top Ten nominees, aku kepincut pas berkunjung ke stand HP-Compaq, jatuh hati saat itu juga dgn ukuran layarnya yg kecil (12,1") dan desainnya yg keren. Speknya pun tinggi (Core 2 Duo T5500 1,66GHz, 512MB DDR2, 80GB HDD, ATI Radeon 128MB, DVD-RW Double Layer) dgn harga yg relatif murah, $1199 (=Rp10.990.000), itu masih ditambah bonus printer HP D1360, free upgrade memory 512MB, dan tas. Sementara Toshiba Satellite M200-E451 punya harga yg sama persis, dgn spek Core 2 Duo T7100 1,73 GHz, layar 14,1", 512MB DDR2, 120GB HDD, Intel GMA up to 251 MB (shared), DVD-RW, Fingerprint Reader, 1,3MP Webcam, plus bonus tas, optical mouse, dan flashdisk Toshiba 1GB.

Aku binguuuung banget milih di antara keduanya. Utk B1962, aku suka bentuknya yg keren, walo sebenernya aku kurang suka layar 12". Speknya juga OK, terutama RAM yg udah 1 GB (512 + free 512) dan VGA yg dedicated. Udah gitu bonus printer pula.. (walo aku gak terlalu butuh sih, udah ada printer di rumah). Tapi M200-E451 unggul dalam hal brand, trus katanya sih aftersales service-nya lebih mudah & terjamin, trus kibornya enakeun (gak kayak kibor B1962 yg mungil). Tapi sayangnya aku masih mesti nambah RAM 512 lagi supaya kinerja makin tokcer dan VGA-nya shared.

Pikir punya pikir, ampe sempet pas di stan Toshiba aku pura2 ke toilet, padahal mah nengok ke stan Compaq lagi utk mbuletin pilihan :p….. And bismillah, I finally pick Toshiba Satellite M200-E451. Gpp nambah RAM, toh nambahnya cuma bikin harganya genap jadi Rp11.100.000 Rp11.000.000 (setelah nego). Soal VGA, toh aku bukan gamers yg butuh graphic card keren, paling banter cuma utk main FM. Transaksi kemudian berjalan dgn lancar, nunggu barangnya diambil dulu dan diinstal OS (Vista Home Basic).. cukup lama, ampe +- 3 jam. Akhirnya sekitar jam 6 sore,  laptop baru resmi bisa dibawa pulang ke rumah… =D

This is my recommended 10 steps to buy laptop:
1. Cek budget
2. Daftarlah laptop yg sesuai budget
3. Cek keinginan
4. Cek kebutuhan
5. Sesuaikan keinginan dan kebutuhan
6. Persempit pilihan laptop
7. Analisislah antar-laptop dari segala sisi (spek, desain, review, layanan purnajual, dll.)
8. Cocokkan dgn poin no. 5 utk mendapatkan 1 nama pilihan
9. Berdoa supaya pilihan kita adalah yg terbaik
10. Bismillah, beli laptop dan bawa pulang =)

Langkah2mu sangat mungkin berbeda dgn rekomendasiku. Don’t be reluctant to share yours here ;).

Oh ya, soal judul post ini… heuheu, sebenernya nggak nyambung sama isinya. Cuma kemaren selain tipe M200, ada juga Toshiba Satellite yg bertipe M100 yg harganya $100 lebih mahal (karena make VGA ATI Radeon 256 MB yg dedicated). Kepikiran aja klo di tengah2 kedua tipe ini, ada tipe ‘perantara’ yg bertitel M150… slogannya ya kayak iklan minuman berenergi itu. BISA!!! :p

A Year Ago.. (Part I)

June 22nd, 2007 by erryfp

It’s been a year since my trip to Holy City & ‘unholy cities’! Tak terasa memang… Sementara temen2 seangkatanku pada sibuk KP liburan panjang tahun lalu, aku malah pelesir ke luar negeri. Jadi inget waktu aku lagi di Mekkah, ada SMS dari Novis nanyain soal jadwal perwalian.. mana aku tau, wong aku lagi off-campus :p.

Anyway, lewat postingan kali ini, aku emang pengen berbagi kisah2 selama perjalanan umrah plus tur Eropa-ku bulan Juni 2006 lalu, bersama kedua orangtuaku. It was a really nice experience, even currently it still stays as one of unforgetable moments of my life. Travel abroad gitu loh.. siapa sih yg ga pengen? Alhamdulillah waktu itu ortuku lagi punya rejeki dan aku pun lagi punya waktu luang yg panjang (yg seperti telah disebutin di atas, mestinya jatahku KP, heheheh :p), so saat yg tepat utk merealisasikan rencana utk pergi umrah sekeluarga. Sebenernya rencana ini udah dibikin sejak taun 2005, tapi berhubung saat itu ada suatu musibah, so kami gagal berangkat. Sisi baik dari kegagalan itu adalah: kami jadi bisa ikutan paket umrah plus tur Eropa, sementara waktu tahun 2005 itu, rencananya ‘cuma’ mo ngambil paket umrah plus Istanbul + Kairo.

Ohya, FYI, kami ikut biro umrah & haji Safari Suci..

Well, dates were set, bags were packed, ready to go!

BANDUNG >>> JAKARTA >>> KUALA LUMPUR >>> DUBAI

Perjalanan dimulai dari kantor Safari Suci di Jl. Citarum, 10 Juni 2006. Beberapa saudaraku turut mengantar ke tempat pemberangkatan. Tak lupa tiga orang temenku juga hadir. Total anggota rombongan yg berangkat dari Bandung berjumlah 11 orang + 1 tour guide. Karena ini rombongan kecil, jadi dari pihak Safari Suci nggak menyertakan ustadz pembimbing. So, selama umrah nanti, bimbingan ibadah bakal dilayani seorang muthawwif (orang Indonesia yg lagi mukim di Arab sana – biasanya sih mahasiswa). Dari 11 orang anggota itu, cuma aku yg berstatus anak, sisanya pasangan suami istri. Awalnya aku sempet khawatir, “Bakal garing nih, ga ada temen ngobrol..” Namun later revealed, bapak2 dan ibu2 rombonganku rata2 berjiwa muda dan aku pun jadi ga terlalu sungkan utk ngobrol bareng mereka :).

Bus berangkat dari Bandung sore hari, kira2 jam 16.00, langsung menuju bandara Soekarno-Hatta. Nyampe jam 18.30, langsung shalat maghrib di-jama’ dgn shalat isya. Di bandara udah menunggu sodara2ku yg tinggal di Jakarta, jadi sempet fofotoan dulu, karena pesawat Emirates yg bakal membawa rombongan kami baru bakal take-off sekitar jam 22.00. Kebetulan malem itu lagi ada siaran langsung Piala Dunia, Inggris vs Trinidad-Tobago. Jadilah aku nunggu boarding sambil nonton bola dan sambil ngobrol dgn sang tour guide yg masih relatif muda, Pak Bonnie namanya (nantinya akan lebih sering disebut sbg Mr. Bonn), +- 35 tahun usianya, lumayan ganteng wajahnya, tapi udah 1 orang istrinya dan 1 orang pula anaknya :p. Dalam usia segitu, Mr. Bonn udah melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Negara2 Eropa, Cina, Jepang, Australia.. cuma ke Amerika aja kayaknya dia blom. Asik yah jadi tour guide? Bisa keliling dunia gratis.. ^_^

Saatnya boarding, masuk pesawat deh… udah lama bgt ga naik pesawat, terakhir waktu aku pindahan dari Pematang Siantar ke Bandung taun ’97. So long long time ago..

Begitu nemu seat-ku, aku langsung tersepona dgn gadget yg ada di hadapanku (posisinya di belakang headrest kursi). Sebuah layar touchscreen, berisi berbagai pilihan menu, mulai film, musik, radio, sampe games. Emirates menyebutnya dgn fasilitas ICE (Information, Communication, Entertainment). Selain sbg sarana hiburan, lewat ICE kita juga bisa tau informasi2 penting seperti estimasi sisa jarak & waktu tempuh, kecepatan pesawat, suhu di luar pesawat, ketinggian pesawat, dsb.. Bahkan ada juga kamera yg terletak di depan hidung pesawat dan di dekat roda depan, so kita bisa nyaksiin prosesi take-off dan landing. Kueren pisan lah pokoknya!! Selain ICE, yg keren dari Emirates adalah menu makanannya. Komplet banget! Selain makan 3x sehari (tergantung durasi perjalanan sih), ada juga snack time. Setiap menu makan lengkap tersedia appetizer, main course, dessert, dan beverages. Weleh…. Buat yg doyan makan kayak aku mah, hal ini tentu sangat menggembirakan (sekaligus menggembulkan :p). Satu2nya kekurangan yg aku rasain selama naik Emirates sepertinya adalah space utk kaki yg tergolong sempit, jadi ga bisa bebas bergerak dan dalam perjalanan panjang, bisa bikin kaki pegel :(.

Pesawat sempet transit dulu sekitar 1 jam di KL dan penumpang ga diperbolehin turun, jadi aku ga sempet ngliat2 bandara KL. Setelah selesai transit, barulah perjalanan panjang yg sebenarnya dimulai. Sekitar 10 jam akan dihabiskan di udara, menuju bandara internasional Dubai…..

<…to be continued…>

April Unyil

April 29th, 2007 by erryfp

Manis sekali ya.. aku terakhir nge-update isi blog ini tgl 1 April, sementara sekarang udah tgl 29. Weh, udah nyaris 1 bulan tak terbaharui rupanya..

Nah, makanya, karena waktu yg hampir 1 bulan itu, postingan kali ini critanya mo nge-highlight aja dulu poin2 menarik yg terjadi padaku di bulan ini. Sukur2 klo sempet, ntar dibahas satu2 dlm postingan baru..

OK, mari kita mulai saja (daftar berikut nggak berurut waktu yah, berdasarkan ingetanku aja):

  • Yang paling fresh sih tentu hari ini. Tadi pagi di kampus, aku ikutan acara "Naga Bonar Nyasar ke ITB". Acara garapan Kabinet KM-ITB, LFM-ITB, dan Dream of Indonesia (DOI — entah LSM atau yayasan apa). Inti acaranya sih jelas bedah film "Naga Bonar Jadi 2", menghadirkan beberapa bintang utamanya. Tentu ada Bang Haji Deddy Mizwar dan Tora Sudiro, plus Lukman Sardi, Musfar Yasin (penulis skenario), dan Akmal N. Basral (wartawan Tempo & penulis novel adaptasi "NBJ2"). Hadir pula Kafi Kurnia mewakili tim marketing film ini.
  • Hari Kamis dinihari lalu, Liverpool terpaksa takluk 0-1 dari Chelski di Stamford Bridge. Yang bikin aku kecewa bukan skor akhirnya, melainkan performa sebagian besar (bahkan mungkin seluruh) skuad The Reds yg letoy dan tak bersemangat. Beda banget ama koar2 sebelum pertandingan. Ini ‘dibantu’ dgn line-up aneh yg diturunkan Rafa, terutama hadirnya Zenden di sayap kiri. Terbukti Bolo jadi ‘kartu mati’ Liverpool malam itu.
  • Kerja ‘lembur’ 4 malem berturut2 di kosan Goro, gerjain tugas eksplorasi DBMS utk kuliah SBD. Well, sebenernya di antara 4 malem itu yg beneran efektif ngerjain tugas sih cuma malem terakhir + hari-H. Sisanya.. eksplorasi ga jelas :p.
  • Persib euy, Persib.. akhirnya setelah nunggu sekitar 11 tahun, bisa ngalahin Persija di Siliwangi. Ga tanggung2, gawang Chamaruc dibobol 3 gol tanpa balas! Lewat hasil ini, Maung Bandung memastikan diri sbg campione d’inferno alias juara paruh musim Liga Indonesia 2007/08. Manteb pisan lah, semanteb sudarsono… [hohoho, kemana yah itu pak dalang yg pancen oye? ^_^]
  • Akhirnya aku bisa bertemu dgn anak2 Rileks! Wehehe, setelah +- 2 taun aku join jadi member dan udah mencatat >2500 postingan, baru hari Senin kemaren aku tatap muka langsung ama nama2 yg udah ga asing di forum, seperti ediablo, -eddy-, maswahyu, the_sun, Toukairin, dan tentunya sang ‘ibu asuh’, rie~star. Heueheu… ^_^. Walo sebenernya momen ketemuannya dalam suasana duka sih, yaitu menjenguk beberapa Rilekser yg kena musibah kecelakaan di Lembang -_-.
  • Nonton "Naga Bonar Jadi 2" di Braga CityWalk. Very good Excellent movie, in my opinion. Cuma ampe sekarang aja aku blom sempet bikin review-nya, karena ngerasa butuh suatu waktu khusus utk ngebahas film lokal yg paling mampu menyentuh hatiku sampai saat ini. Deddy Mizwar is a living legend!
  • Ohya, weekend lalu sodara2ku dari Pasar Jumat dateng serombongan, termasuk dua bocah kecil (Acha & Irwansyah Taura + Rafli) yg pernah kucritain di posting terdahulu. Kehadiran mereka bener2 mampu meramaikan malem Minggu yg biasanya berlalu dgn lempeng2 aja.. karena malem itu kami berwisata kuliner ke Surabi Enhaii dan Ceu Mar.
  • Demo iterasi II fase elaborasi kuliah PPL bareng kelompokku. Huhuhu, maafkan aku teman2.. tidak banyak membantu. Cuma jabatan doang keren, system analist, sementara ampe saat ini aku ngerasa blom menjalankan fungsi jabatan itu dgn baik :(.
  • Ketemu Patricio Jimenez (bek Persib) waktu jalan pagi di Batununggal! (^o^)y

Hmm.. kayaknya cuma itu aja deh yg berhasil aku inget saat ini. Udah rada ngantuk juga sih, jadi mungkin cukup ngefek ama memoriku… :p

Yah, sekali lagi, klo aku sempet, aku pengen ngebahas lebih jauh beberapa poin di atas. Tapi yg penting mah, semoga bulan Mei lusa bisa jadi bulan yg terbaik untukku. Ada UAS, trus ngurusin tempat KP yg masih blom jelas, lalu nyelesein proyek kuliah PPL.. tapi yg paling deket sih, tgl 1 Mei. 2nd leg semifinal Liga Champions, Liverpool vs Chelski @ Anfield. Ayo, lolos ke Athena dong, my Reds!

Oh, lalu apa maksud dari judul di atas?

Hmm, ga ada maksud khusus sih.. cuma pengen melesetin dari nama temennya Kura-Kura Ninja (TMNT), wartawati cantik April O’Neil itu.. heuheuheu…. :p

Perfect Weekend

April 1st, 2007 by erryfp

UTS dah slese.. (entah hasilnya :p)

Trus kemaren (Sabtu) Persib menang 1-0 di kandang Persikota, malemnya giliran Liverpool yg sukses bales dendam ama Arsenal. Ga tanggung2 skornya, 4-1, dgn Peter Crouch nyetak hat-trick. Padahal dia baru sembuh dari cedera loh. Well done, Petey! ^o^

Oh ya, kemaren tu nonton Liverpool-nya bareng anak2 BigReds di Orange Cafe, Plaza IBCC (diundang Paramuda lagi). Yang dateng ga terlalu banyak sih, tapi lumayan rame lah. Cuma malesnya, nonbar kali ini tu mesti beli tiket (utk dituker first drink sih). Harganya lumayan pula, Rp15.000, dan cuma dapet pilihan minuman soft drink ato teh botol <_<. Betenya lagi, kemaren tu aku salah liat jadwal kick-off. Biasanya kan kalo early kick-off tu jam 12.45 GMT = 19.45 WIB, tapi rupanya sekarang tu di Eropa sana dah mulai masuk masa DST (Daylight Saving Time). Jadi selisih waktu GMT & WIB cuma 6 jam (dari normalnya 7 jam). Aku yg lagi ngerjain tugas Graf*ka di kosan Novis, kaget aja waktu nyetel ESPN, ternyata pertandingan dah mulai 10 menit & Liverpool udah unggul 1-0. Aarghh… langsung deh buru2 cabs ke IBCC, walo sempet ke kampus dulu karena aku janjian ama Irsan utk berangkat bareng. Nyampe sana dah half-time dan skor sementara 2-0. Pas ngliat ke ‘panggung’, ternyata host malam itu adalah seorang cowok (lupa namanya siapa, ga penting) dan seorang cewek. Wew, cewek itu adalah Yunni Meliashari, host "Just A Second" di IMTV yg aku suka tonton (ya acaranya, ya host-nya ;p). Huehehehe… akhirnya bisa ketemu secara live juga =D

Hari ini (Minggu), aku menikmati waktu istirahat. Tadi pagi sempet jalan pagi + nyari sarapan ama ortuku ke Batununggal. Temen2 Graf*ka-ku ga ngehubungin, so ampe sore aku stay di rumah aja. Nonton TV, tidur sore.. Bener2 nyante lah hari ini. Itung2 recharge energi utk kembali menghadapi masa perkuliahan setengah semester II yg bakal dimulai besok.

.

..

Tapi kok males yah??? ^_^