Archive for January, 2007

“I Am Sam”

Wednesday, January 24th, 2007

Sean Penn berperan sbg Sam, seorang pria yg mengalami keterbelakangan mental — ciri2nya mirip penyakit autis — sehingga kecerdasannya sama dgn anak usia 7 tahun. Ia punya 1 anak perempuan bernama Lucy (diperankan dgn baik oleh Dakota Fanning). Istri Sam pergi meninggalkan mereka tepat setelah ia baru melahirkan Lucy. Akibatnya Sam harus mengurus Lucy sendirian. Masalah bermula saat Lucy menginjak usia 7 tahun. Departemen Perlindungan Anak meminta Sam utk menyerahkan hak asuh Lucy, karena mereka menganggap Sam tidak cukup layak utk membesarkan anak semata wayangnya itu. Tentu saja Sam — dan Lucy — menolak. Mereka berjuang melalui pengadilan, dibantu oleh seorang pengacara, Rita Harrison (Michelle Pfeiffer). Bagaimana nasib Lucy?

For me, it’s a very good movie. I mean, ampe saat ini, aku blom pernah nemu, nonton, ngliat, mbaca, atau denger liputan ttg orang dewasa yg mengidap autis. Rata2 media cuma mengulas ttg anak kecil penderita autis — penyebabnya, cara menghadapinya, solusi menyembuhkannya. Sangat jarang dibahas mengenai gimana masa depan mereka dan gimana nasib orang2 dewasa yg autis. Apakah mereka akan dapat hidup normal di tengah2 masyarakat umum? Apakah mereka tak dikucilkan dari pergaulan? Apakah mereka tak diejek atau malah disangka sbg orang gila?

Seperti dapat terlihat di film ini, bahwa orang autis ternyata tetap punya perasaan yg tulus thd sesama. Mungkin kecerdasannya nggak mendukung, tapi dia bisa belajar. Dia pun mampu memberikan rasa kasih sayang yg sangat besar thd buah hatinya. Hal yg bahkan bisa saja tak dimiliki oleh manusia berkecerdasan normal — dlm film ini, ditunjukkan dgn sifat arogan Rita dan hubungan buruk dgn anak & suaminya. Selain itu, orang autis — setahuku dan seperti juga dperlihatkan dlm film ini — memiliki beberapa kelebihan, seperti: peduli dgn kerapian, suka hal2 yg teratur, punya memori yg hebat thd suatu hal yg ia gemari. Poin terakhir ini ditunjukkan oleh Sam dan teman2nya. Sam memiliki kegemaran thd The Beatles (nama anaknya, Lucy, pun terinspirasi dari salah satu lagu mereka), bahkan ia beberapa kali menganalogikan kisah hidupnya dgn kisah2 yg menyangkut The Beatles. Salah satu teman Sam hafal quotes terkenal dari film2 zaman dahulu, sementara teman yg lainnya lagi punya ketertarikan thd American Football (utk yg terakhir ini, aku rada2 lupa. Mohon koreksi jika salah).

Dari segi akting, Sean Penn tampil sangat meyakinkan sbg penderita autis. Dakota Fanning juga tampil baik sbg seorang anak yg sayang kpd ayahnya, walau ia tahu ayahnya ‘berbeda’ dari ayah anak2 lainnya. Cuma Michelle Pfeiffer yg menurutku tampil biasa aja.

Well, in conclusion, moral of the story is.. every people was born as human being. How does he look, what does he do, what kind of personality does he have, he’s just a human being. And they NEED to be treated and ,much importantly, respected as a human being.

[as written in My Review, here: http://www.friendster.com/review.php?action=all&uid=7150979, with few additions]

PS: Apakah autis merupakan salah satu bentuk keterbelakangan mental? Atau aku salah? Mohon koreksinya lagi.. =)

2nd Spot? Why Not?

Saturday, January 20th, 2007

Yippeee…!!!

My beloved Reds finally can defeat Chelski in the Premiership. After two-and-a-half season waiting under Rafa, he’s proved that he could beat big teams. Thanks Kuyt & Pennant (what a match to score your first goal for the club). Bring on ManUSA & Gooners!

Now we’re getting closer to 2nd spot. Only 5 points difference with Chelski. A couple of their slip-ups added with a couple of victory for my Reds, then we would have it in our hand.

Oh.. how I couldn’t wait for May coming! ^_^

VO2 Max-ku Jelek Sekali…

Monday, January 15th, 2007

Halah, sok ngerti aja, pake istilah VO2 Max segala… =p

Intinya mah, kondisi fisikku emang udah buruk sekali sekarang. Terbukti pada hari Minggu kemaren, aku cuma tahan ikut main futsal selama 10 menit. Iyup, 10 menit saja. Yah, mungkin kurang ato lebih dikit lah.. tapi kira2 ya segitu.

Ngabisin 10 menit di lapang futsal aja udah ngebuatku ngas-nges-ngos ga karuan. Ujung2nya malah mual dan eneg.. mungkin karena aku baru sarapan beberapa saat sebelumnya ya. Itukah yg istilah sunda-nya "kalikiben"? Somebody confirms, please..

Jadi inget dulu waktu masa2 sekolah menengah (SM), pertama (–P) maupun atas (–A). Masih rajin olahraga, kuat push-up dan sit-up (terutama waktu di Pramuka SMP), masih rajin main bola. Secara emang kurikulum mewajibkan gitu… Trus di DKM juga beberapa kali ikutan outbound dan rihlah. Pokoknya menjaga kesegaran jasmani lah.

Efeknya emang baik untukku. Ga gampang capek klo beraktivitas berat, misalnya makan berat =p. Bodi ga semelar sekarang. Tenaga juga rasanya lebih kuat.

Nah, pas masuk kuliah… lenyaplah sudah kebiasaan2 olah jasmani itu. Alesannya sih klise: sibuk kuliah. Padahal mah bilang aja males.. ^_^

Walhasil, sejak tingkat II, saat masa osjur dah slese dan mata kuliah Olahraga juga dah terlewati, aku ga pernah lagi rutin olahraga. As far as I can remember, terakhir kali olahraga tuh waktu maen futsal pas ada gathering BIGREDS di Bandung, November 2005. Itupun cuma maen 10 menit juga klo ga salah… *_*

Fyuh…. sudah saatnya aku memulai lagi olahraga kah? Biar bisa punya bodi kayak Paris Hilton.. [apasiyy?? Di TV lagi ada video klipnya sih =p]

21-1

Monday, January 15th, 2007

Yup, 21-1. Angka apaan tuh?

Nomer buntut? Tampak bukan.. Nomer rumah? Kayaknya bukan juga.. Skor bulutangkis antara Taufik Hidayat vs Taufik Savalas? Hmm, bisa aja sih. Tapi bukan itu jawabannya.. Soal matematika yg jawabannya 20? Masuk akal. Tapi masih bukan jawaban yg kuinginkan.

Ya sudahlah, tak usah bertele2 [loh, tadi itu ngapain?]. Angka 21-1 adalah agregat gol yg dicetak Liverpool dalam 11 pertandingan EPL terakhir. 21 gol lahir dari kaki dan/atau kepala Crouch, Bellamy, Kuyt, Gerrard, Garcia, Alonso, Gonzo, dan Carra [yup, Carra]. Plus 1 gol bunuh diri Lee McCulloch. Dari 11 pertandingan itu, 10 dilalui dgn clean sheet (sekaligus memperoleh 3 poin tentunya) dan cuma 1 pertandingan gawang Reina bobol (sekaligus memperoleh 0 poin — sigh).

Dengan prestasi semacam ini, pers maupun publik dan so-called football expert, baik lokal maupun interlokal, hanya bisa diam. Udah kayak lagu Potret aja. Liverpool mau bikin raihan apa aja di EPL, mereka nggak berkomentar banyak. Giliran kalah 2x aja, tiba2 The Reds disebut berada dalam kondisi kritis. Oh, how expert you are.. <_<

Pertandingan berikutnya adalah big match, menjamu sang juara bertahan, Chelski a.k.a. CSKA London. Momen yg tepat utk mencetak kemenangan pertama di EPL atas tim asuhan Jose Moaninho ini, karena mereka masih kehilangan John Teary. Sang manajer juga sedang gonjang-ganjing diributkan akan mengundurkan diri akhir musim ini akibat konflik internal dgn board Chelski.

Aku sangat berharap catatan bagus The Reds dalam 11 pertandingan terakhir ini dapat terus berlanjut tanggal 20 Januari 2007 ini. Aamiin.

C’mon you, Reds! You’ll never walk alone!!!