KISAH DARI BALIK KANDANG
Saturday, May 31st, 2008Sebuah Kamis siang yang terik, matahari menyengat dan tiada angin yang bertiup. Tidak ada aktivitas di kampus, baik kuliah maupun ujian, membuat saya merasa bosan. Akhirnya saya memutuskan untuk melangkah keluar, menyusuri pepohonan rindang sepanjang Jalan Ganesha menuju arah Jalan Tamansari. Sampai di ujung jalan, terlihat sebuah gerbang besar dengan papan nama bertuliskan “Kebun Binatang Bandung”. Dengan maksud sekadar mencari keteduhan dan suasana segar, saya melangkahkan kaki menuju gerbang berwarna biru tersebut. Siapa sangka, dari niat yang sederhana itu, saya justru memperoleh sebuah pengalaman unik yang tak akan terlupakan seumur hidup?
Kali terakhir saya menjejakkan kaki di tempat ini adalah sekitar 8 bulan yang lalu, bersama teman dan dua orang sepupunya yang masih bersekolah di Sekolah Dasar. Sebuah hal yang wajar mengingat selama ini, kebun binatang memang identik dengan status sebagai tempat hiburan murah meriah bagi anak-anak beserta keluarganya. Dapat dilihat pada setiap akhir pekan (hari Sabtu & Minggu) serta hari-hari libur (terutama hari lebaran), Kebun Binatang Bandung (KBB) pasti penuh sesak dengan pengunjung yang umumnya terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu, anak, sampai cucu. Selain berniat melihat-lihat koleksi hewan yang dimiliki KBB, keluarga-keluarga ini pun biasanya membawa bekal makanan untuk disantap bersama-sama di atas hamparan tikar. Ini merupakan bagian tradisi orang Sunda yang dikenal dengan istilah “botram”. Memang nikmat rasanya makan siang bersama sanak famili sembari dinaungi pepohonan yang rimbun. Tipe pengunjung lainnya yang kerap mewarnai KBB adalah rombongan study tour anak-anak sekolah, biasanya usia Sekolah Dasar dan berasal dari luar kota Bandung. Kan orang Bandung masa kini lebih memilih mengunjungi pusat perbelanjaan dibanding objek wisata alam?
Sejarah mencatat bahwa asal-muasal KBB adalah peresmian sebuah taman yang terletak di sepanjang bagian barat Huygensweg (sekarang Jl. Tamansari) sampai ke tepi timur Sungai Cikapundung pada tahun 1923. Taman ini didirikan dalam rangka memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda sehingga awalnya diberi nama Jubileumpark. Rancangan awal memaksudkan Jubileumpark sebagai taman botani, taman yang menghimpun berbagai jenis tanaman keras dan tanaman hias. Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Perubahan fungsi yang dirancang oleh Dr. W. Treffers ini merupakan penggabungan dua kebun binatang dari Cimindi dan Dago Atas. Keduanya dianggap sudah tidak layak untuk menyimpan koleksi hewan yang semakin lama semakin banyak. Selanjutnya, kepengurusan kebun binatang ini jatuh ke beberapa tangan. Hingga akhirnya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1953, pengelolaan KBB dialihkan kepada Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) milik Ema Bratakusumah. Yayasan ini lalu diwariskan kepada anak cucu keluarga Bratakusumah, sampai saat ini.
Sebelum melewati pintu masuk KBB, saya harus membeli tiket terlebih dahulu sebesar Rp10.000. Rupanya telah terjadi kenaikan harga sebesar 2000 rupiah sejak saya terakhir berkunjung ke sini. Patokan biaya masuk yang, menurut saya, sudah tidak bisa lagi digolongkan dalam kategori murah. Apakah hilangnya label “murah” berimbas pada lenyapnya label “meriah”? Apalagi hari ini bukanlah akhir pekan dan hari libur.
Ternyata tidak.
Masuk ke area utama KBB, saya langsung disambut riuh-rendah suara anak kecil. Terlihat anak-anak berseragam olahraga warna-warni dan bertuliskan beberapa nama Sekolah Dasar berlarian ke sana kemari ditemani oleh guru-guru yang mengasuh. Ah ya, saya baru teringat bahwa pekan ini sudah merupakan masa liburan sekolah anak-anak kecil itu.
Sambil mengamati tingkah laku para pengunjung cilik yang sangat aktif tersebut dan menikmati kesejukan pohon-pohon, tak terasa saya sampai ke wahana gajah tunggang. Wahana ini sengaja disediakan oleh KBB bagi pengunjung yang ingin mencoba menaiki gajah. Seekor gajah bisa dinaiki hingga maksimal 8 orang. Cukup membayar 3000 rupiah, pengunjung anak-anak dan dewasa bisa merasakan sensasi lenggak-lenggok jalannya gajah mengitari jalur sepanjang kurang lebih 25 meter.
Di sanalah saya bertemu dengan Pak Dikdik, seseorang berseragam biru yang bertugas untuk membantu pengunjung yang akan turun dari gajah yang mereka tunggangi. Wajahnya yang ramah membuat saya tertarik untuk mengobrol dengannya.
“Saya sudah bekerja di sini sejak 20 tahun yang lalu,” ujar Pak Dikdik. Dengan umurnya yang masih 38 tahun, artinya ia telah bekerja mulai usia yang cukup belia.
“Sebenarnya tugas saya bukan di wahana gajah tunggang ini, melainkan di area hewan-hewan primata. Jabatan saya sebagai keeper (pawang) primata, terutama orang utan dan siamang. Berbagi tanggung jawab dengan 5 orang pawang lainnya yang mengurusi koleksi primata lain, seperti kera jepang, beruk, wau-wau, dan bekantan. Cuma kebetulan saja saat ini saya sedang tidak ada tugas sehingga diminta membantu di bagian gajah,” lanjut pria asal Pangalengan ini. Ceritanya berlanjut dengan menjelaskan job description hariannya sebagai seorang pawang, walau sesekali harus terputus saat si gajah tiba di tempat penurunan penumpang.
“Jam kerja saya dimulai pukul 07.00 hingga 17.00. Pagi-pagi sudah harus meninjau keadaan hewan, siapa tahu ada yang sakit. Setelah itu, membersihkan kandang dari kotoran-kotoran supaya kebersihannya terjaga. Jam 08.00 memberi makan pagi, kemudian saya bebas tugas sampai sekitar pukul 15.00, saatnya makan sore. Kandang pun dibersihkan lagi sambil mengecek kondisi masing-masing hewan. Rutin seperti itu terus setiap hari,” begitu penjelasan Pak Dikdik.
Pertanyaan mengenai menu makanan primata lalu meluncur dari mulut saya. Ia menjawab bahwa pada umumnya, semua primata memiliki menu yang sama yaitu buah-buahan (terutama pisang & pepaya) dan sayur-sayuran. Selain itu, seminggu sekali mereka diberi jatah makanan ekstra di luar menu rutin. Biasanya menu ekstra ini berupa apel, jeruk, ataupun roti tawar. Dalam hati saya berpikir, alangkah beruntungnya hewan-hewan ini bisa mendapat asupan gizi yang cukup baik dan teratur. Belum tentu sang pawang bisa menikmati buah-buahan segar seperti yang mereka konsumsi setiap hari.
Kemudian Pak Dikdik menceritakan suka-dukanya selama menjadi pawang. “Pengalaman paling menarik yang pernah saya alami adalah sewaktu bertarung dengan seekor siamang di atas pohon. Waktu itu saya sedang memotong ranting pohon yang menjulur ke luar kandang. Sepertinya siamang itu merasa terganggu dengan aktivitas saya sehingga ia menyerang saya. Saya pun berusaha melawan sambil bergelantungan di atas pohon. Jelas saya yang terdesak. Untung saya menggunakan sepatu bot. Saya tendang saja siamang itu dan ia langsung melarikan diri,” ceritanya dengan antusias.
“Namun yang paling sedih adalah saat melihat hewan asuhan saya sedang sakit atau bahkan sampai mati. Kedekatan yang selama ini terjalin membuat saya merasa kehilangan. Apalagi bisa dibilang, dari merekalah saya bisa memenuhi kebutuhan anak dan istri,” lanjutnya.
Obrolan saya dengan Pak Dikdik terhenti ketika waktu menunjukkan pukul 12.30. “Waktu istirahat siang,” katanya. Sebelum ia pergi, saya sempat meminta izin untuk melihatnya memberi makan sore kepada hewan-hewan asuhannya. Sambil tersenyum, ia membolehkan dan mengundang untuk datang ke kandang orang utan pukul 15.00. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun pergi melanjutkan jalan-jalan melihat binatang lainnya.
KBB terletak di sebuah lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Cikapundung. Hal ini berpengaruh terhadap kontur area kebun binatang yang berundak-undak. Pada tingkat paling rendah, terdapat sebuah kolam yang digunakan sebagai wahana perahu bebek kayuh dan perahu dayung. Di bagian utara kolam, dibatasi oleh sebuah jalan setapak, ada kolam lain tempat berkubangnya dua ekor kuda nil. Di dekatnya, saya melihat seseorang berseragam biru – sama seperti yang dikenakan Pak Dikdik – sedang membersihkan lahan sekitar kolam. Saya mendekatinya dan meminta izin untuk berbincang-bincang.
Sosok pria yang tampak cukup tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Dedi Rahmat. Ia bertugas sebagai pawang buaya dan kuda nil. Deskripsi tugasnya kurang lebih sama saja dengan Pak Dikdik.
“Tapi saya juga punya tugas menguras kolam kuda nil ini seminggu sekali,” tambahnya. Saya cukup kaget mendengarnya karena melihat ukuran kolam yang tidak bisa dibilang kecil, ia harus membersihkannya seorang diri.
Pria yang berdomisili di Cileunyi ini kemudian menceritakan mengenai hewan-hewan yang menjadi tanggung jawabnya. Terdapat 8 ekor buaya muara, 2 ekor buaya irian, 1 ekor kuda nil biasa, dan 1 ekor kuda nil kerdil. Semua hewan ini berasal dari sumbangan pihak luar, terutama buaya yang dihibahkan oleh pemilik perorangan. Rupanya di Bandung pun ada beberapa orang yang memelihara buaya di pekarangan rumahnya, antara lain di daerah Buahbatu dan Soekarno-Hatta.
Tidak takut digigit buaya, Pak?
“Saya sudah sejak tahun 1979 bekerja di KBB dan menjadi pawang buaya dari tahun 1982. Dalam 1 – 2 minggu pertama sih memang masih takut, tapi lama-lama jadi biasa. Saya belajar menangani buaya dengan membaca buku dan bertanya kepada orang-orang yang sudah lebih berpengalaman. Selain itu, saya juga pernah ikut studi banding ke kebun binatang lainnya khusus mempelajari trik-trik menghadapi buaya,” jawabnya.
Ketika disinggung mengenai menu makanan hewan, Pak Dedi menjelaskan bahwa untuk kuda nil, menunya sayur-mayur dan buah-buahan – mirip dengan menu primata. Lain halnya dengan buaya. Sajian untuk mereka ialah satu ekor bebek hidup bagi masing-masing buaya.
“Bebek itu langsung dilemparkan hidup-hidup ke kandang buaya. Nanti buayanya akan mengejar si bebek sampai dapat, jadi buaya juga diajarkan harus berusaha demi mendapat mangsa. Proses buaya mulai makan bebek sampai mencernanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Makanya jadwal pemberian makan untuk buaya juga 10 hari sekali,” tambahnya.
Bapak dari 5 orang anak ini menceritakan pula pengalaman yang ia rasa paling menarik selama bekerja di KBB. Salah satunya adalah saat memindahkan buaya dari satu kandang ke kandang barunya. Teknik yang ia gunakan yaitu dengan membungkam mulut buaya dengan jerat serta menutup seluruh kepalanya dengan karung.
“Tapi yang paling lucu ialah waktu ada pengunjung yang protes kepada saya, menuduh buaya-buaya yang ada di kandang cuma patung. Soalnya kan buaya memang punya kegemaran berdiam diri lama sekali sambil berjemur. Pengunjung tersebut merasa setiap ia datang ke KBB, buaya yang ia lihat sama sekali tidak pernah bergerak dan posisinya tidak pernah berubah. Padahal memang hobinya buaya kayak gitu,” ujarnya sambil terbahak-bahak.
Terakhir, pawang berusia 43 tahun ini melengkapi, “Saya juga punya tugas tambahan sebagai serep (cadangan) pawang ular. Kalau pawangnya lagi libur, saya menggantikan dia. Begitu juga sebaliknya.”
Kasus pawang cadangan ini mirip dengan Pak Dikdik yang membantu di bagian gajah. Mungkin mereka tidak merasa terpaksa dalam mengerjakannya, tapi saya merasa ini adalah sebuah bentuk kurangnya profesionalisme dalam pembagian tugas oleh manajemen KBB. Semestinya seorang pawang cukup memfokuskan diri kepada hewan yang menjadi tanggung jawabnya, tidak perlu memecah konsentrasi dengan menjadi cadangan pawang hewan lain. Namun mungkin saja ini adalah akibat dari kekurangan personel.
Setelah puas memperoleh informasi dari Pak Dedi, saya meneruskan perjalanan dengan kembali ke tingkatan atas KBB. Melihat-lihat berbagai koleksi unggas, seperti burung kakatua, merak, kutilang, ayam bekisar, dan sebagainya, yang berada di kandang-kandang khusus yang lebih lapang. Kondisi ini memberi ruang yang cukup bagi berbagai spesies burung untuk beterbangan bebas ke segala penjuru.
Usai rehat sejenak sambil menunaikan salat zuhur di musala, saya melangkah ke arah barisan kandang hewan-hewan yang dijuluki “raja hutan”. Ya, KBB menyimpan pula koleksi karnivora buas seperti harimau sumatera, harimau putih, macan kumbang, dan singa. Saat saya melihat dari dekat, hewan-hewan ini sepertinya sedang beristirahat karena semuanya sedang berbaring di lantai kandang. Tidak tampak keberingasan layaknya raja hutan.
Penasaran akan kondisi mereka, saya pun mencari pawangnya untuk meminta informasi lebih lanjut. Setelah bertanya sana-sini, saya lalu menemukan sang pawang bernama Asep Saepudin sedang ikut serta dalam sebuah penggalian yang sepertinya untuk membuat kandang baru. Ia mengenakan kaus hijau, celana jins, dan sepatu bot yang dikotori dengan tanah. Sangat berbeda dengan penampilan dua pawang yang sebelumnya sudah saya temui.
“Iya, ini lagi membuat kandang baru untuk komodo,” ucap Pak Asep menghampiri saya sambil mengusap peluh. Wah, kok pawang singa dan harimau malah ikut bekerja membuat kandang? Apalagi kandang komodo yang bukan merupakan tanggung jawabnya.
Saya mengutarakan maksud kedatangan untuk menanyakan informasi tentang hewan-hewan asuhannya. Ia menyambutnya dengan senang hati. “Sekalian istirahat sebentar,” katanya sambil tertawa.
Pria asli Bandung ini kemudian menjelaskan bahwa dua jam lagi, singa dan harimau itu akan diberi makan. Hidangan rutin mereka adalah daging ayam utuh sebanyak 4 ekor untuk setiap singa dan harimau. Biasanya mereka makan setiap hari tetapi karena harga daging ayam meningkat, jatah makan pun dikurangi menjadi dua hari sekali. Oo, mungkin mereka cuma berbaring saja gara-gara perutnya sudah kelaparan, pikir saya. Namun lagi-lagi saya merasa miris saat di dalam hati mencoba membandingkan menu makanan para karnivora ini dengan menu yang mungkin biasa disantap keluarga pawangnya. Apakah Pak Asep, istri, dan 4 orang anaknya juga bisa dengan leluasa melahap daging ayam?
“Saya juga bertugas untuk mengontrol kesehatan singa dan harimau-harimau ini. Kebersihan kandang harus dijaga, begitupun kebersihan hewan. Saya memandikannya dengan cara menyemprot dari luar pakai selang. Selain itu, kalau ada koleksi yang baru masuk, saya juga bertugas menjinakkannya supaya tidak membahayakan pengunjung,” tambahnya. Untungnya selama 17 tahun bekerja sebagai pawang, ia belum pernah terkena luka berat. Padahal salah satu temannya pernah diserang harimau yang sedang ganas-ganasnya sehingga harus dirawat di rumah sakit dan mendapat 79 jahitan di sekujur tubuh.
Tidak terlalu lama saya bisa bercengkrama dengan Pak Asep karena ia harus segera kembali ke tempat penggalian. Sebelum berpisah, ia mempersilakan saya untuk datang pukul 16.00 kalau ingin melihatnya memberi makan singa dan harimau. Tentu saya tidak akan melewatkan ajakan tersebut.
Sambil menunggu jadwal memberi makan orang utan yang Pak Dikdik akan lakukan, saya duduk melepas lelah di sebuah bangku panjang. Terpikir oleh saya betapa dekatnya hubungan antara pawang dan hewan asuhannya. Ketiga pawang yang saya temui selalu menyebutkan bahwa duka terdalam yang mereka rasakan ialah jika hewan asuhannya sakit dan kemudian mati, sementara sukanya jika melihat hewan yang sehat. Merawat binatang bukanlah hal yang mudah. Pawang harus memiliki kelembutan hati untuk mampu memahami perasaan hewan yang menjadi tanggung jawabnya.
Hal lain yang menarik dari ketiga pawang ini adalah kesamaan awal mula mereka menjadi pawang. Baik Pak Dikdik, Pak Dedi, maupun Pak Asep menyatakan bahwa alasan mereka bekerja di KBB adalah karena ajakan dari anggota keluarga lainnya.
“Saya diajak oleh kakak yang sudah lebih dulu bekerja di sini,” demikian kata Pak Dikdik. Sementara Pak Dedi memberitahu bahwa almarhum orang tuanya dulu bekerja di KBB sebagai penyabit rumput untuk pakan hewan. Keduanya yang berjasa memasukkan dirinya ke kebun binatang ini. Ia pun kemudian merekomendasikan dua orang adiknya untuk bekerja di tempat ini – satu orang sebagai pawang dan satu orang lagi sebagai staf kantor KBB. Begitupun Pak Asep yang menjadi pekerja di KBB berkat dorongan ayahnya yang juga pawang harimau. Pertama masuk, kerjanya masih serabutan. Baru sekitar 2 tahun setelahnya, ia dipercaya oleh sang ayah untuk membantunya menjadi pengasuh singa dan harimau.
Saat ditanya mengenai kesejahteraan mereka sebagai pawang di KBB, hanya Pak Dedi yang mengaku gajinya bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Namun ia pun menambahkan bahwa dua orang anak tertuanya telah memiliki pekerjaan, sehingga bisa ikut membantu kebutuhan keluarga. Selain itu, posisinya sebagai salah satu pawang paling senior di KBB mungkin juga berpengaruh terhadap besaran penghasilan yang ia terima. Berkat pengabdiannya selama hampir 30 tahun ini, ia pernah menerima penghargaan berupa sejumlah uang dan piagam penghargaan.
Lain halnya dengan kedua pawang yang lebih junior dibanding Pak Dedi.
“Yah, terus terang saja, pegangan saya mah belum cukup untuk memberi makan anak istri,” tukas Pak Dikdik sambil tersenyum pahit. Ia memilih menyebut “gaji” sebagai “pegangan”. Sepertinya sebuah makna tersirat bahwa pekerjaan ini benar-benar telah menjadi sandaran hidupnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
“Istri saya terpaksa ikut membantu dengan bekerja juga di sini sebagai penjaga WC,” lanjutnya, “sementara istri-istri pegawai lainnya juga ada yang mencari tambahan penghasilan dengan cara membuka warung di dalam area KBB ini.”
Di tempat lain, Pak Asep mengeluhkan kenaikan BBM yang baru-baru ini terjadi. Lokasi rumahnya sangat jauh, di daerah Cibiru, sementara ia belum memiliki alat transportasi pribadi. Akibatnya, ia harus naik ojek dan angkutan kota setiap hari untuk pulang-pergi ke tempat kerjanya ini.
“Kalau dihitung-hitung, sekarang setiap hari bisa habis tiga puluh ribu rupiah untuk pulang-pergi,” keluhnya. Lewat perhitungan kasar, dengan asumsi hari kerja efektif setiap bulan (setelah dipotong jatah libur) sebanyak 25 hari, Pak Asep harus mengeluarkan Rp750.000 untuk ongkos transport saja. Saya memang tidak menanyakan besaran gaji pawang, tetapi saya yakin jumlahnya tidak akan jauh dari angka 1 juta rupiah. Bisa lebih, tapi bisa juga kurang dari itu. Sulit membayangkan, sisa uang 250 ribu rupiah harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan seorang istri dan empat orang anak selama 1 bulan.
Sempat terlarut dalam perenungan, saya melihat jam dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang utan feeding time! Bergegas saya pergi ke kandang orang utan yang berbentuk semacam pulau dengan sungai buatan di sekelilingnya. Pak Dikdik dari kejauhan telah melihat saya dan melambaikan tangan. Di balik kandang, saya bertemu dengan orang utan tertua di KBB. Namanya Simon, berusia lebih dari 30 tahun. Timbul rasa ngeri melihat ukuran tubuhnya yang sangat besar dan rambutnya yang lebat, mirip gorila. Saat diberi makan, tangannya langsung meraih pepaya, pisang, jeruk, dan roti tawar (menu ekstra pekan ini). Pak Dikdik memberitahu bahwa kekuatan tangan orang utan besarnya sepuluh kali lipat kekuatan tangan manusia dewasa. Oleh karena itu, saya diingatkan supaya tidak berdiri terlalu dekat dengan kandang agar berada di luar jangkauan Simon.
Selepas menyaksikan orang utan, giliran jam makan para karnivora yang mesti saya hadiri. Sangat menarik melihat mereka dengan tak sabar menunggu di balik celah tempat daging ayam dilempar ke dalam kandang mereka. Yang saya perhatikan, cara makan harimau lebih rapi dibanding singa. Harimau menghabiskan 4 ekor ayam satu persatu, sementara singa melahapnya secara acak. Pemandangan yang unik dan baru pertama kali saya saksikan.
Setelah selesai memberi makan hewan asuhannya, Pak Asep muncul bersama anak dan istrinya. Namun yang menarik perhatian saya ialah seekor hewan yang mirip kucing tapi bertubuh besar yang turut mengiringi langkah mereka.
“Ini anak hasil perkawinan singa yang saya asuh. Usianya baru dua bulan. Namanya Marsha karena lahirnya bulan Maret hari Selasa. Sekarang sih masih jinak, nggak tahu nanti kalau sudah besar,” katanya sambil menggiringnya ke arah saya. Melihat tingkahnya yang menggemaskan bagai kucing, tak akan ada yang menyangka kalau hewan ini adalah anak singa. Bahkan anak Pak Asep yang masih kecil saja berani bermain-main dengan Marsha.
Tanpa terasa, hari telah semakin sore. Mungkin saya adalah pengunjung terakhir yang berada di dalam KBB ini. Seusai menyempatkan diri berfoto sambil memangku Marsha si anak singa, saya pun berpamitan kepada Pak Asep dan keluarganya. Sembari berjalan menuju gerbang keluar, terselip secercah rasa yang belum pernah saya rasakan selama beberapa kali kunjungan ke KBB. Sebuah kepuasan akan pengalaman yang baru saya lewati, berdialog dengan tokoh-tokoh perawat hewan ini. Beragam cerita yang mereka ungkapkan menambah wawasan saya bahwa ternyata banyak kisah menarik dari balik layar – lebih tepatnya, dari balik kandang – satu-satunya kebun binatang di kota ini. (*)
(Feature ini dibuat untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah KU4214 Jurnalisme Sains dan Teknologi)
******
Baca di koran PR (dan katanya juga ada di Tribun Jabar) hari ini, ada berita ttg satwa baru di KBB. Trus ada foto Marsa juga… Wew, beruntunglah aku udah pernah foto duluan bareng si anak singa sebelum dipublikasikan ke media massa.